26 September 2011

Analisa Fundamental Keuangan Dunia (Part 2)

Sistem pertarungan ekonomi tahun 2011-2015

Nah, Ben Bernanke sudah mulai kehilangan daya upaya rupanya, dia mulai dah sengaja setiap bulan brbicara kalau ekonomi AS masih jauh dari sempurna. Membuat kecemasan, ketakutan, dan kepanikan. Dan rupanya Ben Bernanke sudah tahu jika sistem ekonomi yang ia terapkan tidak berhasil. Dia membuat rencana B jika rencana A tidak berhasil. Dia juga sepertinya tau bahwa antara tahun 2008-2010 akan terjadi krisis ekonomi, tapi dia tidak memperkirakan bahwa krisis akan terjadi di tahun 2008 sebegitu dashyat. Dia mulai dah memborong emas secara perlahan-lahan. Analis ane juga tidak tahu mulai dari kapan Bank sentral AS terus memborong emas, tapi kemungkinan mulai tahun 2007.. Ben Bernanke sebetulnya mau memperbaiki sektor industri yang lumpuh akibat terjangan krisis global. Tetapi apa daya, perilaku konsumtif warga AS dan lebih parahnya lagi China mempermainkan mata uang dan membuat biaya produksi ditekan serendah mungkin. Alhasil produk China laris manis bak kacang goreng di negeri Paman Sam. Sebetulnya jika produk China tidak masuk ke AS, industri AS akan pulih dengan cepat karena perilaku konsumtif tersebut. Jurus QE 1 dan 2 yang dilancarkan tidak berhasil, malah uang hasil QE 1 dan 2 bukan “ditaruh” di China dengan selisih suku bunga tinggi, tetapi malah dipakai untuk memuaskan nafsu konsumtif dengan membeli produk China yang murah meriah. Malah juga ditaruh untuk melakukan aksi spekulasi di bursa saham seluruh dunia dan komoditas. Ben Bernanke terpaksa deh melemahkan terus mata uangnya dengan ucapan-ucapannya, agar dollar AS melemah, ekspor meningkat, dan yang pasti barang China menjadi lebih mahal. Ben Bernanke juga membuat suatu pernyataan bahwa Ekonomi As ke depan bakal suram lah, belum pulih lah, dll.


Maka Pemerintah AS mempergunakan jurus lain. Mungkin, mungkin lho ya gan, Pemerintah AS mempergunakan media cetak dan elektronik yang menyatakan bahwa ekonomi China itu kuat sekali, OKB bertambah banyak, bla...bla...bla. Gunanya apa sih gan....?? ya supaya China dan negara BRIC lainnya, serta negara berkembang lain yang masih bertahan diserbu dana panas dari seluruh penjuru dunia. Coba agan pikir, media cetak dan elektronik asal AS mengangung-angungkan keberhasilan ekonomi bangsa lain , sedangkan AS sendiri masih merupakan super power ekonomi, aneh sekali bukan...??, sama seperti seorang karyawan mengaung-angungkan perusahaan lawan dihadap boss-nya sendiri. Mungkin saja media AS dibayar oleh Pemerintah AS untuk berbicara menegnai hal itu.

Jerman juga sebetulnya mulai emosi dengan AS yang secara agresif menurunkan mata uangnya. Ini tidak bisa dibiarkan saja. Maka Jerman memutuskan untuk menjadikan Yunani sebagai pion dalam catur. Sebetulnya ini merupakan akal-akalam politik saja kalau boleh ane berpendapat. Yunani itu sebetulnya harus sudah keluar dari mata uang Euro sejak dahulu. Ya hampir sama nasibnya seperti Irlandia yang didepak. Tapi Jerman tidak mau menyia-nyiakan hal ini. Kasihan dong kalau dibuang begitu saja tanpa ‘dimanfaatkan dahulu”. Dan mengapa Yunani terus yang menjadi sorotan, padahal kan ada Italy dan Spanyol yang hampir sama parahnya. Ingat gan, kan Yunani negara kecil, jadi Yunani kalau keluar dari Uni Eropa kan pengaruhnya kecil. Bandingkan dengan Spayol dan Italy. Dan pada waktu Ben Bernake berbicara waktu Kamis pagi, sebetulnya dia mau buat kebijakan atau pernyataan yang membuat dollar AS melemah, tapi kok malah mengeluarkan jurus baru, yang ane sendiri sampa tertawa, dan ternyata menurut pendapat analis ane Ben Bernanke takut setengah mati bila Jerman mengeluarkan sebuah pernyataan yang membuat panik pasar tentang kondisi Yunani yang sudah berada di tangan Jerman tersebut. Lha, kan Jerman pemegang surat utang Yunani terbesar. Dalam kata lain, Jerman meng-gertak AS jika Ben Bernanke mau turunkan dollar lagi. Apalagi pertumbuhan ekonomi Jerman dan Perancis merosot tajam, gara-gara permainan mata uang yang menyebabkan nilai ekspor mereka turun, dan terjadi gonjang-ganjing inflasi. Ane jamin kalau Jerman melakukan hal itu maka harga emas akan turun sangat tajam bahkan bisa langsung terjun ke $1.400 dan Euro ke level 1,1xx. Orang-orang Eropa akan memborong dollar yang sangat banyak, dan pada akhirnya defiit perdangan semakin tinggi. Ben Bernanke sebetulnya mau menghancurkan China tetapi malah Uni Eropa kena getahnya. Ceritanya akan berbeda lagi jika AS dan Uni Eropa memakai mata uang bersama.

Nah, China pintar juga memanfaatkan keadaan rusuh AS-Eropa, dengan membeli surat utang Italy. Kan jadinya Uni Eropa sungkan tuh kalau mau menghancurkan ekonomi China. China bak makaikat penolong di tengah krisis “adu tak-tik perang ekonomi”. Nah Ben Bernanke telat 1 langkah, lalu Ben Bernanke cari muka juga untuk menawarkan bantuan ekonomi agar ekonomi Eropa tidak bangkrut. Agan tahu kan ada 5 bank sentral yang menawarkan bantuan ekonomi, yaitu Bank Sentral AS, Jepang Swiss, Inggris, dan Uni Eropa, sama juga tujuan mereka yaitu mencari muka. Dan selain mencari muka juga, sebetulnya ke-5 bank sentral tersebut (selain Uni Eropa) takut jika ekonomi Eropa dilanda kepanikan luar biasa, karena investor Eropa tidak segan-segan untuk langsung membeli seluruh mata uang dari ke-5 negara tersebut sebagai “tempat pelarian sementara”. Nah, Euro bisa langsung terjungkal ke 1.0xx terhadap dollar.

Negara China juga rupanya ada masalah yang sangat serius di bidang ekonomi-nya. Agan tahu kan jaman Soeharto dulu, apa-apa murah, dan banyak sekali proyek-proyek prestisius yang ane anggap kurang perlu, sedangkan di bidang pendidikan dan pengembangan teknologi kurang diperhatikan. Tapi bedanya di China teknologi merupakan teknologi tiruan, pesawat ditiru, apa-apa ditiru. Pemerintah China membuat proyek-proyek fasilitas umum dan tempat tinggal berupa rumah dan apartemen yang sangat banyak jumlahnya.

Tapi yang membedakan Pemerintah China dengan Soeharto adalah mereka itu komunis sejati. Segala sesuatu yang merusak, atau mencemarkan nama baik negara dan pemerintahan harus segera “disingkirkan”, biarpun itu merupakan sebuah fakta yang mengandung kebenaran. Salahnya Pemerintah China itu, dan yang paling fatal dan beresiko tinggi terkena krisis ekonomi adalah dengan memberikan pinjaman dana ke daerah-daerah untuk didirikan segala fasilitas publik, seperti stadion, tetapi mereka buat stadion yang sangat megah. Ya, sangat megah tetapi didirikan di tempat yang menurut ane kurang pantas didirikan stadion di situ. Proyek-proyek perumahan dan apartemen yang terus menerus dibangun dengan sangat anat banyak, sehingga ekonom AS (maaf ane lupa namanya gan) pernah berkata tentang bahaya akan terjadi. Dia berkata (ane terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia),”Pasar property China itu 1.500 kali lebih parah dari Dubai. Mereka terus membangun apartemen dan rumah, tetapi mereka tidak menghitung seberapa yang akan laku dari apa yang telah mereka bangun”. Selain itu, antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Pdaerah seperti “utang dalam saudara kandung”. Jadi jika Pemerintah Daerah gagal mengembalikan pinjaman dari Pemerintah Daerah, maka Pemerintah Pusat akan mengampuninya. Atau dengan kata lain, kasih dah.... . Wah, itu sangat berbahaya, dan nanti ada kecenderungan daerah untuk membangun suatu proyek yang tidak perlu, dan biaya pembangunan-nya di mark up, kemudian masuk kantong deh..., lalu bilang saja kalau proyek yang dilalankan gagal, selesai masalah kan...??, padahal itu uang pinjam dari Pemerinah Pusat.
Selain itu, tanda-tanda kehancuran ekonomi China ditambah dengan dana asing yang berasal dari investor AS yang mulai percaya dengan ketangguhan ekonomi China. Yah, jadinya rencana AS sukses besar. Lihat saja cadangan devisa China itu sebesar $3,2 triliun. Nilai itu sangat besar jika dibandingkan nilai neraca perdangangan yang hanya berkisar $200 milyar di tahun 2010.
Para ekonom-ekonom AS juga membuat pernyataan bahwa ekonomi China akan mengalahkan AS di tahun 2025, ada yang bilang di tahun 2030,...bla....bla....bla. Untuk ke sekian kalinnya ane tertawa gan. Gimana ngak tertawa coba, seorang ekonom yang dia lahir dan memiliki warga negara AS bilang ekonomi China bakal mengalahkan AS. Sama seperti si A adu balap sepeda gunung dengan si B, lalu si A bilang, “nanti kamu bisa mengalahkan aku di tikungan ke-3”. Kecuali kalau si A mau merencanakan sesuatu dengan si B, itu baru masuk akal bukan. Yah, jadinya gelembung hot money China bakal semakin besar dan terus membesar. Seandainya China melepas obligasi AS maka tentu akan merugikan China karena buat apa dana cadangan devisa mereka yang segitu banyak mereka diamkan saja, walau bunga obligasi AS sangat kecil, tidak sebanding dengan bunga obligasi China. Lalu yang paling bahaya juga jumlah kredit yang telah disalurkan pada tahun lalu sangat tinggi, mungkin ane bilang terlalu tinggi dengan kondisi ekonomi global yang belum pulih sepenuhnya dari krisis ekonomi. Jumlah kredit yang mereka salurkan mencapai $1 triliun di tahun 2010, dan bank-bank di China gampang saja memberikan kredit kepada nasabah dan perusahaan. Hal itu akan terjadi kredit macet yang sangat besar di kemudian hari jika tingkat ekspor melemah dan inflasi yang sangat tinggi. Analis ane perkirakan akan terjadi kredit macet antara tahun 2013-2015.

Jika China hancur ekonomi-nya, yang pasti Australia juga bakalan hancur karena ekspor batu bara tidak ada yang membeli. Indonesia juga karena eksport batu bara dan minyak sawit bakal berkurang permintannya. Tetapi yang menjadi persoalan terbesar, adalah itu perusahaan-perusahaan besar dari seluruh dunia sudah merencanakan dan bahkan ada yang sudah melaksanakan ekspansi bisnis di China, termasuk perusahaan General Motor, dan City Bank. Jadi, apakah AS melakukan aksi bunuh diri....??, I don’t know.

1 comments:

Alka Pratama said...

Analisa Fundamental sangatlah penting khussunya sebagai guidance kepada trader untuk bisa terus up date dengan informasi baik itu berita politik, ekonomi dan lainnya. sekarang saya mencoba untuk konsisten membaca Berita Harian dari octafx untuk bisa melihat berita fundamental yang terjadi